Memahami Puasa Secara Luas

puasa,muslim,

definisi puasa

Latar belakang menulis artikel ini ,saya ingin memberi tambahan wawasan saja tentang puasa di bulan ramadhan.Dimana saat itu mayoritas muslim di Indonesia banyak yang menahan lapar dan haus dari waktu shubuh sampai maghrib,artinya mereka menahan lapas dan haus kurang lebih 14 jam..Ya karena artikel ini berisi pandangan saya ,maka boleh menerima dan menolak pendapat saya tentang puasa yang mungkin kontroversial di mata muslim mayoritas.

Oke,Kita mengetahui  dan sepakat bahwa definisi puasa itu tidak dijelaskan detail oleh kitab Al-Qur’an…Apakah anda sudah sepakat dengan pernyataan saya ??sekali lagi bahwa definisi puasa itu tidak dijelaskan detail oleh Alquran ..Apakah puasa itu menahan makanan dan minum saja yang ditonjolkan ??…Oke,Bila mengambil definisi puasa dari rujukan hadis-hadis maka banyak sekali yang mengatakan bahwa puasa itu menahan lapar dan haus dari waktu subuh sampai maghrib…tetapi apakah hadis-hadis itu bisa dipercaya keakuratannya/kebenarannya ??,Mari saya persilahkan dulu untuk membaca artikel ku yang lain -> Pandangan saya mengenai Qur’an dan hadis

Menurut Saya pribadi ,apakah penting menahan lapar dan haus ?? bila membuat pekerjaan anda sehari-hari terbengkalai,menjadikan tubuh anda lemas yang berakibat menjadi tidak efektif pekerjaan anda,apalagi pekerjaan anda dilakukan di siang hari terik yang begitu panas..Bila puasa (menahan haus dan lapar) yang dimaksud membuat anda menjadikan anda pemalas dan kurang gairah serta menggunakan alasan puasa untuk melindungi diri anda dari ketidakprofesionalan anda,Maka sesungguhnya anda adalah orang kikir alias pelit..kenapa saya katakan pelit dan kikir karena anda lebih rela menyiksa diri anda dengan menahan lapar dan haus di tengah aktifitas pekerjaan daripada membayar fidyah.. Hahahaha Anda pasti menuduh saya kafir dan sesat?? ya kan…Nanti dulu ya penjelasan panjang lebarnya akan saya uraikan di bawah..Mari kita bahas ,efek bulan ramadhan dimana harga-harga kebutuhan pangan semakin meningkat disebabkan justru konsumsi masyarakat malah meningkat juga di bulan ramadhan dibanding bulan-bulan biasa…Ya saya rasa itu akibat rasa dendam kesumat setelah seharian tidak makan dan minum,ditambah lagi memang di bulan di ramadhan dikondisikan dengan menjamurnya penjualan minuman-minuman & makanan khas yang berselera…Pengeluaran anda di bulan ramadhan pun membengkak artinya puasa malah bikin anda boros….

Kita bahas dulu Dalil  Qur’an yang menyuruh kita berpuasa :

Al-baqarah Ayat 183: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

Al-baqarah Ayat 184: (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Al-baqarah Ayat 185:  (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Dari ayat Al-Baqarah 183-185 kita dapat beberapa poin yang perlu kita bahas :

-Definisi puasa tidak dijelaskan apakah benar ?? ‘menahan makan dan minum dari subuh hingga maghrib’,,yang selama ini kita ketahui dan laksanakan…. ritual berpuasa dari masing-masing Nabi dan masing-masing kaum berbeda-beda. Kita misalnya mengenal cara berpuasa Nabi Daud dimana beliau dan kaumnya berpuasa secara selang seling, sehari berpuasa, sehari tidak. Sebagian dari kita juga mengenal kebiasaan berpuasa Nabi Musa dimana beliau berpuasa jika tidak mendapati makanan. Meskipun untuk umat-umat sebelumnya sudah ada perintah berpuasa, namun tata cara dan ritualnya berbeda-beda. Meskipun ritualnya berbeda-beda, namun para Nabi sebelum Nabi Ahmad bin Abdullah (Kanjeng Rasullulloh SAW) -> baca juga artikel saya yang lain mengapa menyebut Nabi Ahmad bin Abdullah -> Persepsi Sebenarnya Tentang Kata Muhammad dan Penjelasannya , memiliki tujuan dan hakikat berpuasa yang sama, yaitu agar menjadi manusia yang bertakwa…

-Batasan waktu puasa juga tidak dijelaskan,apakah hanya dari subuh sampai maghrib ??Gimana nasib anda bila saat bulan ramadhan anda tinggal di negara subtropis,negara eropa dimana saat musim panas,matahari lebih lama bersinar hingga lebih dari 14 jam…..apakah anda tetap melakukan menahan makan dan minum lebih dari 14 jam ???…..Lalu bila anda berpuasa di musim dingin di negara subtropis,yah berarti anda melakukan puasa kurang dari 14 jam.bisa-bisa cuma 6 jam yang dimana bikin iri hati orang yang melakukan puasa di negara tropis seperti Indonesia.…..Coba renungkan dalam-dalam  penjelasan saya tersebut,saya mengatakan ibadah puasa adalah ibadah orang kikir dan pelit karena anda lebih senang membohongi diri anda dengan berpuasa daripada membayar zakat/fidyah yang berguna bagi fakir miskin yang kekurangan sandang,papan,& pangan,, padahal anda mampu membayar,,Bila memang anda tidak mampu membayar dan anda seorang pengangguran yang tidak ada penghasilan sama sekali maka anda diwajibkan berpuasa,menunggu fidyah dari orang-orang yang mampu karena dari harta orang yang mampu tersebut ,anda wajib  menarik sebagian dari mereka..apakah anda mau dilabeli orang fakir miskin yang kekurangan ??….Sedangkan secara profesional bila anda melakukan puasa,anda cenderung manja dan meminta orang-orang pemeluk agama lain untuk memahami anda bahwa anda manusia lemah yang perlu dipahami,,,Hahahaha,hal seperti inilah yang membuat agama ‘islam’ terkesan manja dan pemalas yang minta belas kasihan padahal kenyataannya tidak..

-Puasa diwajibkan kamu agar bertaqwa,,sebenarnya puasa tersebut dilakukan agar kamu bertaqwa,,saya persilahkan dulu untuk membaca artikel saya lain ->Memahami ketaqwaan sesungguhnya , bila dianalogikan ketaqwaan adalah sebuah upah,maka lebih baik anda fokus kepada upah tersebut,upah tersebut berupa ketaqwaan..kita mengetahui bahwa dalam ketaqwaan itu berisi sebuah keikhlasan untuk menafkahkan sebagian harta untuk orang-orang yang membutuhkan baik di waktu lapang maupun sempit…Kita sebagai muslim perlu memahami bahwa sesungguhnya puasa itu adalah ajang kegiatan sarana untuk merasakan penderitaan fakir miskin yang kekurangan,setelah kita merasakan penderitaan diharapkan kita menjadi pribadi yang lebih ikhlas untuk menafkahkan sebagian harta kita..Jadi bila sudah tahu hakikat puasa,maka sebenarnya kita sudah tidak perlu membohongi diri kita dengan berpuasa yang sebenarnya membuat aktivitas anda menjadi terhambat,,,,efek dari aktivitas yang terhambat adalah produktifitas kerja…..Bila anda bekerja di kantoran mungkin berpuasa tersebut tidak menjadi masalah,tetapi bila anda pekerja sebagai sales /kuli bangunan atau apapun yang membutuhkan aktivitas fisik maka anda menjadi lemah…Aktivitas kerja yang terhambat akan membuat penghasilan anda pun akan berkurang,,padahal ciri-ciri orang bertaqwa adalah menafkahkan sebagian harta,dengan penghasilan anda yang kurang akibat maka anda jadi mengurangi jatah anda kepada fakir miskin yang membutuhkan.

 Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah,,ini dimaksudkan anda wajib memberi jatah makanan 1 kali untuk fakir-miskin setara dengan harga 1x konsumsi makan sehari,,,bila jatah anda makan 1 kali seharga Rp 20.000 maka anda wajib membayar fidyah sebesar Rp 20.000..Bila anda memberikan jatah kurang dari jatah makanan 1x makan,maka anda termasuk golongan kikir/pelit…Bila anda sudah mempunyai anak yang masih belum punya penghasilan maka anda harus membayar fidyah anak-anak anda makanan 1x jika anak anda tidak puasa

-Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu………..Ukuran dari berat ini adalah ukuran diri sendiri dan bukan ukuran orang lain karena bisa jadi sesuatu itu ringan untuk seseorang tetapi berat untuk orang lain. Telah disebutkan dalam ayat diatas, bahwa Allah menghendaki kemudahan bagimu, bukanlah kesukaran bagimu, sehingga bagi manusia yang berat menjalankan puasa dan memaksakan diri untuk berpuasa, tidaklah sesuai dengan kehendak Allah.Oleh karena itu Allah menegaskan kembali bahwa berpuasa itu adalah KUTIBA bukanlah FARDHU karena berpuasa dilakukan pada tempat-tempat tertentu, waktu-waktu tertentu dengan tata cara tertentu dan pada keadaan manusia yang tertentu.

Yah,ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa berpuasa menyebabkan berhalusinasi dan dengan halusinasi tersebut kita lebih fokus kepada ritual ibadah vertikal kepada Gusti Allah,,tetapi apalah artinya bila berbuat secara vertikal kepada Gusti Allah,,kalau tidak berpartisipasi/berperan aktif menjalankan ketaqwaan,,padahal manusia yang paling mulia adalah manusia paling bertaqwa..

Ada kalimat yang perlu kita kaji lagi,Berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui..Berpuasa yang bagaimana ??apakah berpuasa menahan lapar,dahaga,dan seks dari subuh hingga maghrib seperti pengertian puasa yang saat ini dipahami oleh muslim awam..karena puasa belum jelas didefinisikan,dan setiap Nabi punya tata cara yang berbeda-beda tentang puasa,,,Jadi menurut saya puasa adalah bentuk prihatin dengan kondisi sendiri untuk meningkatkan kesadaran bahwa kita manusia harus bertanggung jawab kepada Allah..Bentuk prihatin ini bisa diartikan mengingat Allah terus menerus di waktu berdiri,di waktu duduk,di waktu berbaring yang diiringi dengan mengendalikan hawa nafsu,,pengendalian hawa nafsu dimaksudkan juga untuk mempertajam rasa .pengendalian hawa nafsu bisa bermacam-macam bisa menahan lapar dan dahaga dari waktu subuh sampai maghrib atau bisa juga mengendalikan hawa nafsu dengan puasa bicara seperti yang dilakukan Nabi Zakaria,atau lain-lain yang sebenarnya banyak versi tentang puasa….Mengenai puasa yang dilakukan mayoritas muslim saat ini,,kita mungkin tanpa sadar kita tidak mengendalikan hawa nafsu saat berbuka puasa,,dimana konsumsi makanan jadi berlebihan tanpa terkendali akibatnya malah tambah boros,yaah kalau begini ini namanya tidak mengendalikan hawa nafsu tapi cuma menahan hawa nafsu saja..Oleh karena puasa yang menurut saya berat dan belum tentu saya bisa melakukannya secara sempurna,maka saya lebih baik membayar fidyah saja selama saya masih punya penghasilan dan menurut saya memberi jatah makan 1 kali juga tidak merugikan saya,,Justru dengan saya memberi makan kepada fakir miskin,,saya akan menemukan keberartian hidup saya,,dimana saya bisa puas melihat mereka kenyang akibat kontribusi saya,yah menurut inilah surga sebenarnya….Saya juga salut dengan orang-orang yang sudah melakukan puasa (menahan lapar,dahaga,sex dari waktu subuh hingga maghrib) tetapi mereka tetap memberi makan,,yah walaupun salut dengan mereka tetapi saya tidak tahu apakah mereka sukses mengendalikan hawa nafsu,prihatin,dan mengingat Allah terus-menerus karena hanya dirinya dan Allah yang mengetahui..Lalu sebagai tambahan informasi saja,,di Iran komunitas syiah memberlakukan wajib puasa bagi pengangguran,,tetapi yang bekerja hukum puasa jadi tidak wajib (informasi dari teman saya yang pernah belajar di Al-Azhar)..

Ada dimensi-dimensi tertentu dalam agama yang tak bisa sepenuhnya dipahami secara rasional. Contoh yang baik adalah masalah ibadah. Yang saya maksud di sini adalah ibadah dalam pengertian yang terbatas, yaitu apa yang sering disebut dengan ibadah mahdah alias ibadah murni seperti sembahyang, puasa dan haji. Tata cara ibadah dalam Islam, menurut saya tidak bersifat “Harga Mati” dan semua ibadah bisa tersebut bisa didiskusikan..Dan yang perlu diketahui Hubungan vertikal antara individu dengan Tuhan adalah bersifat pribadi,hanya antara individu dan Tuhan saja yang mengerti,,,jadi individu lain tidak bisa mencampuri/menghakimi individu lain yang melakukan tata cara ibadah apapun agama dan alirannya..Indikator kesuksesan seseorang dari ibadah vertikalnya adalah bisa dilihat dari perbuatan dan kontribusinya dalam berbuat kebajikan pada orang lain atau ketaqwaannya  istilah di Al-Qur’an..Boleh dibilang  ibadah vertikal yang berbagai macam banyaknya itu  berfungsi untuk mempertahankan konsistensi ibadah horizontal (berbuat kebajikan sesama manusia) agar tetap kontinyu..Sebaiknya kita memang tidak boleh menilai seseorang dari  bagaimana terlihat rajin ibadah vertikal-nya,,toh banyak orang yang terlihat rajin dan khusyuk ibadah vertikal tetapi ternyata sering melakukan korupsi,menipu,prostitusi,menyakiti orang lain,,seperti yang kita bisa lihat saat ini kasus korupsi yang dilakukan anggota elite PKS (Partai Keadilan Sejahtera),atau kasus prostitusi yang dilakukan oleh anggota MUI…PKS dan MUI adalah lambang orang-orang yang rajin melakukan Ibadah vertikal kepada Allah,tetapi banyak anggota yang ternyata berbuat zalim seperti yang saya contohkan di atas.

Memakai akal adalah perintah Tuhan itu sendiri. Jika seseorang mengikuti perintah agama dengan sikap kritis, itu bukan berarti ia tak tunduk pada perintah tersebut, tetapi justru ia melaksanakan perintah itu sendiri. Kalangan Islam konservatif/mayoritas sunni, dengan interpretasi tertentu, hendak mengatakan bahwa sebagai Muslim, kita harus tunduk pada perintah Tuhan tanpa reserve, tanpa ba-bi-bu. Kita tak diperbolehkan untuk mempertanyakan kenapa Tuhan memerintahkan hal ini, melarang itu. Tugas manusia nyaris seperti “budak” yang taat tanpa berpikir pada sebuah perintah.Padahal  kita wajib menggunakan akal kita untuk menggali dan menganalisa setiap-setiap ayat di Al-Qur’an,dan penggunaan akal wajib disertai nurani yang suci dan sesuai koridor ketaqwaan, Seperti  yang diperintahkan QS Al-Anfal ayat 22 tentang penggunaan akal..

QS Al-Anfal ayat 22 

“inna syarra al-dawabbi ‘inda al-Lahi al-shumm al-bukm al-lazina la ya’qilun.” (QS 8:22).

Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun. (8: 22)

Ayat di atas bukan semacam kutukan bagi mereka yang secara fisik menderita cacat tuli dan bisu. Dua kata itu dipakai dalam ayat di atas secara metaforis. Ayat itu sudah menjelaskan dirinya sendiri: tuli dan bisu di sana merujuk kepada orang-orang yang tak memakai akal. Yakni mereka yang hanya tunduk pada tradisi dan pemahaman yang sudah berlaku umum, tanpa memeriksa pemahaman itu secara kritis dengan akal sehat.

Lalu sebuah kritikan tentang kebisuan dan ketulian yang menyebabkan manusia tidak mempelajari lebih dalam tentang sebuah ajaran Rasul SAW atau ayat-ayat Al-Qur’an ,kita bisa melihat QS as syura ayat 74..

 QS as Syura ayat 74 

قَالُوا بَلْ وَجَدْنَا آبَاءَنَا كَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya Kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian”.

Ayat itu adalah kritik terhadap masyarakat pada masa Nabi Ibrahim yang “ngotot” merawat tradisi keagamaan mereka tanpa berpikir kritis. Mereka menolak dakwah Ibrahim dengan alasan yang sangat “tipikal” pada semua masyarakat manapun: kami hanya mengikuti tradisi yang sudah dijamin teruji; kami tak mau ambil resiko mengikuti anda yang belum jelas reputasinya. Masyarakat manapun memang cenderung konservatif, alias menjaga tradisi dan merawatnya secara membabi-buta, walaupun bukti-bukti rasional menunjukkan bahwa praktek yang ada itu sudah tak tepat sama sekali dan berlawanan dengan semangat zaman.Ayat itu relevan sebagai kritik bukan saja untuk masyarakat pada masa Nabi Ibrahim, tetapi juga keadaan umat Islam sendiri saat ini. Semangat taklid buta tanpa berpikir kritis sangat dikecam dalam banyak ayat di Quran.Itulah “tuli” dan “bisu” yang dikritik oleh Quran di QS Al-Anfal ayat 22 : sikap keras kepala, tak rasional, tak mau membuka diri pada perkembangan baru yang ada dalam masyarakat. Orang-orang seperti ini mempunyai prinsip yang khas: pokoknya agama mengatakan A, ya sudah, saya mengikutinya tanpa bertanya apapun. Orang-orang semacam ini merasa tunduk pada perintah Tuhan, padahal mereka mengabaikan perintah Tuhan yang lain untuk berpikir kritis.

Apalah artinya saya lapar dan dahaga demi ibadah kepada Allah ,bila fakir miskin yang lain juga kelaparan ?? Lebih baik saya memberi kesenangan kepada fakir miskin  yang Allah juga memperbolehkan dan sebenarnya puasa memang lebih baik yang maksudnya segala ritual yang berhubungan dengan pengendalian diri/pengendalian hawa nafsu..Saya tidak bermaksud menghina,merendahkan orang yang melakukan puasa (menahan lapar,sex,dan dahaga dari subuh hingga maghrib) yang saat ini dilakukan oleh mayoritas muslim,tetapi tujuan saya adalah membuka cakrawala tentang makna puasa yang sebenarnya secara tidak langsung adalah cara halus dari ALLAH untuk kepada muslim-muslim seluruh dunia untuk berinfaq,bersedekah,berzakat kepada manusia yang layak diberi seperti fakir-miskin,,,,Walaupun definisi Puasa yang masih belum jelas karena banyak bermacam-macam puasa..Bagi Saya,semua jenis ibadah yang dilakukan oleh agama/aliran apapun sama saja,,yang penting di mata saya adalah bukan bagaimana cara beribadah, berpuasa tetapi apakah anda bisa menghayati spiritualitas yang “genuine” dengan cara ibadah yang anda ikuti itu atau tidak.Semua orang beribadah dengan tujuan yang sama: membangun komunikasi dengan Tuhan sebagai Sumber, Pemberi, dan Pemelihara Kehidupan.

Demikian tulisan/artikel ini saya buat,semoga dengan membaca tulisan ini ,bagi yang menjalankan puasa atau yang tidak menjalankan puasa bisa saling menghormati…Lalu pastinya ada pro kontra dengan tulisan/artikel saya ini.Bagi yang kontra saya hanya mau bilang bahwa manusia yang paling mulia di mata Tuhan adalah manusia yang paling bertaqwa,bukan manusia yang terlihat rajin ibadah (QS al-Hujjarat ayat 13)..Lalu,bagi yang kontra saya cuma nanya “apakah ibadah puasa mu diterima oleh Tuhan ??” …Salam damai,semoga islam semakin maju

  Sahabatmu,

 

Satyo

About satyotito

saya pernah kuliah di Universitas Diponegoro jurusan Teknik kimia angkatan 2004 ..... dengan adanya blog ini,saya ingin berbagi pandangan dan pengetahuan dari diri saya....siapa tau bermanfaat untuk teman-teman yang membaca
This entry was posted in Ruhani islam and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Memahami Puasa Secara Luas

  1. Pingback: Pelabelan, dan Penyeragaman,Pemurnian Agama Harus Ditiadakan | tulisantulisansatyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s